Wednesday, December 24, 2025

Chainsaw Man - The Movie: Reze Arc (2025)

Mappa

Oke sih. Tetapi lebih bagus manganya.

 

Mappa


Secara teknis animasi, film ini bagus. Sayangnya tidak bisa mengadaptasi ciri khas Fujimoto dalam storytelling di manga.

 

Mappa

Manga Chainsaw Man punya keistimewaan sendiri. Dan keistimewaan itu hilang di film ini.

Di manga, dramanya sangat mengalir dan sinematik. Tidak bertele-tele. Di film dramanya jadi dragging. Adegan fillernya membuat film jadi sangat shonen dan bertele-tele. Begitu juga gelutnya.

 

Mappa

Pertarungan di manga terasa pendek tapi tegang. Kita dibuat penasaran dengan apa yang akan terjadi berikutnya. Di film jadi dipanjang-panjangin + dikasih musik jedug-jedug. Suasana jadi beda. Hilang bagian tegangnya.

 

Mappa

Sebelum ini sempat nonton Jujutsu Kaisen: Shibuya x Culling Game, yang gelutnya juga dikasih musik jedug-jedug dan membuat kurang suka. Namun ternyata JJK masih lebih bagus, karena tidak mengurangi ketegangan. JJK juga membuat adegan filler, tetapi terasa sangat pas dan menambah ketegangan.

 

Mappa

Ya, karena materi Jujutsu Kaisen memang fokus pada pertarungan. Ada narasi teknik pertarungan dan sistem kekuatan dan pikiran para karakternya, jadi ada yang disimak selama pertarungan. Itu berbeda dengan Chainsaw Man yang tidak memiliki sistem kekuatan yang jelas, sehingga bagian filler di film hanya terasa sebagai ledakan sana-sini yang hambar.

 

Mappa

Karakter Reze juga tidak sesuai imajinasi (kalau ini subyektif). Reze dalam pikiran saya agak tomboy dan nakal dengan suara dewasa. Di anime jadi pakai suara imut2 dan centil, yang jatuhnya malah annoying.

 

Mappa

Bahkan karakter Denji juga terasa berbeda. Entah ya, dia terasa seperti karakter shonen mainstream yang lucunya dibuat-buat. Padahal di manga dia sangat unik dan lucunya natural. Tapi lagi-lagi ini subyektif tergantung imajinasi masing-masing.

 

Mappa

Menurut saya Jujutsu Kaisen juga tidak sebaik manganya. Tetapi masih berbagi suasana yang sama. Dan adegan filler di Jujutsu Kaisen berhasil memperbaiki tempo cerita yang sangat cepat di manga menjadi pas di anime. Seperti ketika Sukuna atau Gojo membuka domain, yang mana di manga hanya gambar dan penjelasan, tapi di anime jadi benar-benar bagus. Untuk Chainsaw Man, saya tidak menemukan keunggulan seperti itu. Malah cenderung bosan karena terasa lama menunggu sesuatu terjadi.

 

Mappa

Kesimpulan. Sebagai film hiburan, apalagi buat yang belum baca manganya, ini film yang oke. Tetapi sebagai adaptasi, ini bukan adaptasi yang bisa menerjemahkan manganya dengan baik. Sebagai perbandingan, Look Back adalah contoh adaptasi yang sangat bagus dan bisa menangkap seni bercerita dan gambar khas Tatsuki Fujimoto.

Sayang Chainsaw Man tidak bisa diadaptasi seakurat itu. 

 

 

Saturday, December 20, 2025

Avatar: Fire and Ash (2025)

20th Century Studios

Boleh dibilang TWOW part 2.

Mirip film kedua. Meneruskan perang di film kedua. Tapi drama/cerita lebih bagus, dialog lebih deep, konflik lebih tegang, perang lebih besar.

Di awal langsung ada dialog tentang sains dan kepercayaan. Itu keren banget. Tidak menyangka bisa sedalam itu.

 

20th Century Studios

Villainnya keren. Bener2 bikin gregetan. James Cameron tahu cara menulis villain dengan benar.

Kekurangannya, lemah di ending. (Pasti ini yg bakal diserang 'kritikus') 

Saya sih oke aja. Toh 3 jam bener2 dibikin melek. Sampai ke toilet 2x lari2 di koridor biar tidak ketinggalan banyak.

Lebih suka ini dibanding film kedua. Tapi film kedua menang adegan kapal tenggelam yang epik.

 

20th Century Studios

Neytiri, Varang, Jake, Miles, keren semua aktingnya 🔥🌋.

Di film kedua Zoe Saldana yang paling menonjol. Kali ini hampir semuanya bagus.

 

20th Century Studios

Pujian untuk Oona Chaplin yang benar-benar jadi pembeda. Kehadirannya bikin filmnya tambah greget. Karakternya ditampilkan dengan sangat alami.

Saya masih bisa melihat Kate Winslet dalam karakter Ronal, masih bisa melihat sosok manusia dari Tonowari, tetapi Varang, dia benar-benar terlihat sebagai penghuni Pandora asli.

Bisa jadi dia akan masuk nominasi. Jika benar begitu harusnya Zoe Saldana juga sih. Bikin merinding setiap kedua wanita ini muncul.

 

20th Century Studios

Banyak yang ngeluh filmnya ngelag, atau frame drop. Entah yang mereka maksud HFR 'dual fps' khas Avatar atau emang beneran eror. Karena lihat beberapa rekaman di sosmed ada yang filmnya terlihat gerakannya terlalu cepat. Entah itu hasil editan, tangkapan kamera yang kurang bagus, atau memang eror.

 

20th Century Studios

Heran juga sama yang bilang filmnya boring di awal. Like... Whattt? Apa kita menonton film yang sama? Padahal act 1 dan 2 sangat tegang. Langsung dikasih perang udara dan adegan kejam. Enggak ada yang bosenin di film ini.

 

20th Century Studios

Kesimpulan. Wajib nonton di 3D. Rekomen XXI, kalau bisa IMAX. Karena baca-baca banyak masalah di jaringan bioskop sebelah.

Film kedua saya ngantuk nonton yang 2D, tapi setelah nyoba yang 3D jadi melek terpukau sampai akhir.

 

20th Century Studios

Di 2D, adegan nyemplung air ya cuma kita lihat mereka nyemplung air. Di 3D kita bisa merasakan genangan air di depan mata, kotoran-kotoran yang beterbangan, dsb. Itu hanya bisa ditemukan di film Avatar dan di bioskop.

Avatar adalah puncak teknologi perfilman. Seperti merasakan ponsel yang paling canggih, tivi yang paling baru. Jadi selagi ada kesempatan, gas ke bioskop dan rasakan pengalamannya.

Tidak cukup nonton sekali. 

 


Friday, December 5, 2025

Ratsasan (2018)

Home Screen Entertainment

Cerita penyelidikan yang bagus tapi kemasan agak-agak sinetron.

 

Home Screen Entertainment

Arun (Vishnu Vishal) memiliki mimpi menjadi sutradara film kriminal, tapi karena tidak kunjung berhasil dia banting stir menjadi polisi saja. Siapa sangka jika ternyata bahan riset untuk cerita filmnya membantunya memecahkan sebuah kasus pembunuhan berantai.

 

Home Screen Entertainment

Premis yang sangat menarik, jujur saja. Hanya saja kemasannya bertele-tele dan sangat India. Banyak adegan slowmo dan musik sama yang diputar berulang-kali.

Ceritanya sendiri cukup oke. Cuma bagian awal yang agak boring. Setelah masuk penyelidikan jadi bikin penasaran.

 

Home Screen Entertainment

Pemecahan misterinya bagus. Khas detektif polisi, menelusuri petunjuk dari nol hingga akhirnya menemukan tersangka. Cukup berani juga membunuh para karakternya.

Selain slowmo dan spam musik, kejadian unik juga terjadi di ending. Di mana ketika akan menangkap si penjahat berubah jadi adegan gelut saling melempar jurus seperti film kungfu. Yah, tapi namanya film India, tidak begitu aneh. Memang biasa MC-nya jago menari dan berkelahi.

 

Home Screen Entertainment

Adegan unik lainnya adalah pak polisinya gak pernah pakai helm. Bahkan ban motor bocor aja berhenti di tengah jalan.

 

Home Screen Entertainment

Kesimpulan. Film misteri kriminal yang oke sih, andai bisa bertahan dengan kemasannya yang dikit-dikit slowmo dan musik sama yang diputar berulang macam sinetron. Bisa menjadi film yang sangat bagus jika diremake dengan style drama kriminal biasa.