Wednesday, July 30, 2025

M3GAN 2.0 (2025)

Universal Pictures

Semakin tua semakin tidak peduli dengan rating atau cap 'penonton keren'. Contohnya suka M3GAN ini. Sangat suka dengan yang pertama, meski ratingnya jelek. Suka juga dengan yang kedua ini, meski ratingnya jelek juga.

 

Universal Pictures

Filmnya masih setia dengan konsep seperti yang pertama. Hanya kali ini terasa lebih megah dengan efek yang lebih bagus. Masih banyak dialog konyol dan lelucon-lelucon garing tapi beneran lucu. Karakter M3GAN yang ceplas-ceplos dan kurang ajar semakin ditonjolkan lagi di sini. Dan dibuatkan lagi adegan M3GAN joget-joget karena di film pertama sangat legend adegannya. Sungguh tidak mengecewakan. Wajah si M3GAN juga masih sama. Bahkan dibuatkan lelucon saat muka dia mau diganti desainnya.

 

Universal Pictures

Cerita film pertama sudah lupa sih, tapi yang jelas ini lanjutannya. Belum nonton yang pertama pun bakal bisa mengikuti karena sering dibicarakan bahwa M3GAN berusaha membunuh mereka di film pertama. Sekuel ini menceritakan munculnya robot AI lain dan M3GAN harus turun gunung untuk membantu melawan robot itu.

 

Universal Pictures

Adegan gelutnya bagus. Gerakannya cepat dan ada unsur martial art-nya. Tidak asal jotos. Plotnya juga sat-set langsung konflik dengan dialog cepat. Durasinya jadi lebih panjang. Karena itu jadi ada efek agak capek di sedikit adegan. Tidak banyak. 

Para pemainnya juga masih sama. Bagus sih. Di film pertama aktingnya terkesan kaku, tapi di film kedua ini jadi lebih bagus. Karakter pendukungnya juga bagus-bagus.

 

Universal Pictures

Sangat rekomen buat yang nyari film receh pelepas penat. Salah satu film gaje yang sangat saya suka.

 


 

Friday, July 25, 2025

Wall to Wall (2025)

Netflix

Seru sih. Bukan yang bakal membekas atau gimana, tapi selama nonton dibawa tegang.

Wooseong berhasil membeli rumah impiannya di Seoul. Namun hal itu menjadi petaka ketika rumahnya selalu dipenuhi suara berisik sementara dia tidak bisa menjualnya karena harga yang terus turun.

 

Netflix

Filmnya seperti Parasite, atau yang terbaru Sinners; film yang arahnya berubah di tengah jalan, atau memiliki dua konflik. Di paruh pertama drama super tegang dan bikin nebak-nebak. Paruh kedua jadi lebih banyak aksi. Sejujurnya emang terasa menurun tensinya. Lebih seru di paruh pertama karena bikin nebak-nebak. Paruh kedua cuma nunggu ending aja bakal dibawa ke mana.

Visualnya bagus. Setelah beberapa kali drop drakor karena visual biasa aja dan dialog bertele-tele akhirnya ada film Korea yang sat-set dan memanjakan mata. Akting Kang Haneul jadi daya tarik utama. Yeom Hyeran cuma tampil sebagai karakter pendukung yang standar saja tapi cukup memeriahkan suasana. Villainnya pun tipikal penjahat Korea psiko teriak-teriak. Udah bosen sebenarnya, villain korea pasti gitu-gitu aja. Benar-benar cuma Kang Haneul yang terasa di atas rata-rata.

 

Netflix

Entah kenapa ratingnya rendah. Padahal ini tipikal film garapan Netflix yang cukup mudah dinikmati. Dan terlihat niat penggarapannya. Mungkin mereka cuma mau film yang bahagia-bahagia saja.

Banyak juga yang protes atau tidak paham sama endingnya. Ya anggap saja open ending. Saya sendiri tak pernah mempertanyakan ending yang ambigu. Cukup dirasakan saja. 

Oke sih buat hiburan. Bikin kita cemas, gelisah dan gregetan. Walau bukan yang membekas. Rekomen buat yang suka film tegang-tegangan.



 

Sunday, July 20, 2025

How to Train Your Dragon (2025)


Universal Pictures

Awal menonton feel-nya seperti remake frame by frame, sangat plek dengan versi animasi. Jadi merasa agak boring di awal. Ketika masuk hutan siang-siang mulai terasa bagus visualnya. Dan ketika mulai adegan mengenal Toothless, berlatih melawan naga, dan akhirnya mulai adegan terbang, akhirnya terasa ada keunggulan dibandingkan versi animasinya.

Dengan karakter manusia asli dan set visual dunia asli, adegan terbangnya jadi sangat bagus. Cocok banget buat layar IMAX.

 

Universal Pictures

Para karakternya juga tidak langsung menarik sejak awal. Mereka masih terasa berusaha mengikuti versi animasi, kemiripan-kemiripannya pun sangat dimaksimalkan--atau dipaksakan. Agak kaku bisa dibilang. Namun semakin ke belakang karakter mereka jadi semaki solid. Mason Thames sebagai Hiccup mulai terlihat aura loveable-nya sebagai tokoh utama, juga Nico Parker sebagai Astrid Hofferson.

 

Universal Pictures

Yang paling menonjol si Hiccup sih. Malah lebih suka Hiccup di sini dibanding versi animasi, karena jadi ada vibes seperti Harry Potter atau Percy Jackson. Di versi animasi dia sangat komikal, sedang versi live action sifatnya lebih nyata sebagai anak yang tidak ingin menyakiti naga, sehingga kita lebih bersimpati padanya.

Cuma kepikiran, pemeran Stoick (ayahnya Hiccup) kenapa tidak David Harbour saja. Karena selama nonton Gerard Buttler jadi seperti melihat David Harbour.

 

Universal Pictures

Yang saya temukan adalah, ternyata adaptasi live action yang sangat plek dengan versi ori terkadang bukan menjadi hal yang baik. Seperti HTTYD ini, malah merasa bosan saat melihat adegan yang persis dengan animasinya. Setengah berharap ada lebih banyak hal yang diubah menjadi lebih kreatif atau lebih realistis, terutama desain karakter manusianya. Seperti Hiccup-nya yang sebenarnya agak beda dari versi animasi, dan malah itu jadi  terlihat bagus.

 

Universal Pictures

Meski awalnya skeptis, tapi rupanya ini adaptasi live action yang bagus. Bisa memiliki keunggulan dari versi animasinya tapi juga tetap setia dengan versi pendahulu--sehingga fans tidak dibuat mencak-mencak. Hubungan antara Hiccup dan Toothless juga terasa kuat. Mungkin karena manusia asli jadi kita bisa relate dengannya.

Film keluarga/remaja yang sangat rekomen. Apalagi jika belum pernah menonton versi animasinya, pasti lebih menikmati lagi. Semoga tetap jalan dan bisa stabil kualitasnya.

Habis nonton jadi sedih karena Toothless mirip kucing saya yang sudah meninggal.




Friday, July 18, 2025

The Whale (2022)

A24

Baru saja tergerak buat nonton, padahal sudah lama tahu. Dan ternyata film yang luar biasa.

Bercerita tentang Charlie, seorang guru online yang hidup sendirian dan berkubang dalam obesitas dan kesedihan. Dia sudah menyerah dengan hidupnya, namun di sisi lain juga ingin berbuat sesuatu yang bisa membuat hidupnya berarti.

Cerita hanya berseting di rumah Charlie, di mana dia kedatangan beberapa tamu yang nantinya akan mengungkapkan masa lalunya, juga konflik yang sedang dia hadapi. Semua karakter punya konfliknya masing-masing, dan itu menjadi lapisan twist yang terbuka sedikit demi sedikit.

Suka dengan karakter Charlie. Dia orang baik hati dan pintar. Membaca banyak buku. Ucapan-ucapannya hangat dan argumen yang dia lontarkan tenang. Benar-benar menggambarkan sosoknya sebagai seorang guru yang bijaksana dan sabar.

 

A24

Banyak tema soal esai, buku, tulisan, jadi buat yang suka nulis atau belajar nulis, film ini akan sangat memberikan semangat.

Brendan Fraser sangat bagus memerankan seseorang yang lama tinggal sendirian di rumahnya. Aktingya terlihat luar biasa ketika dia sedang sendirian di rumah. Kita bisa iba padanya dan ikut merasakan rasa sakit yang dia derita. Dia juga sangat natural menjadi orang obesitas. Gerakan tangannya, posisi tubuhnya, ekspresi kelelahannya, benar-benar seperti melihat orang obes betulan, tidak dibuat-buat. Sampai mikir apakah itu make up atau dia gendut betulan.

Sadie Sink sebagai Ellie menjadi karakter yang mencuri perhatian. Remaja rebel yang ceplas-ceplos dan meledak-ledak emosinya. Karakternya rumit. Dia menarik, cantik, tapi bikin gedeg juga polah tingkahnya. Ty Simpkins sebagai Thomas juga menyenangkan. Pemuda misionaris gereja yang sering datang dan berniat membantu Charlie.


A24

'Buku ini membuatku memikirkan tentang hidupku sendiri'. Kutipan paling kuat yang ada di film ini. Kutipan itu juga yang mencerminkan isi film. Film ini membuatku memikirkan tentang hidupku sendiri. Beberapa adegan berhasil membuat terharu dan tersentuh. Namun yang paling besar, film ini membuat kita bersyukur dengan hidup kita.

Endingnya twist. Twist bukan sekadar twist, tapi menjadi klimaks dan membuat filmnya terasa utuh, puitis, dan menginspirasi.

Sangat rekomen buat yang ingin cari film menyentuh dengan pesan kuat tentang kehidupan.

 



Thursday, July 17, 2025

Spy x Family Code: White (2023)

Toho Co., Ltd.

 Bagus sih. Tidak terasa terpisah dari canon-nya. Masih seperti nonton serialnya namun dengan durasi lebih panjang.

Kali ini Keluarga Forger pergi berlibur sekalian ingin membeli meremere, makanan yang akan dilombakan Anya di lomba memasak sekolah demi kesuksesan Operasi Strix. Yang tanpa diduga bertemu dengan militer jahat yang sedang merencanakan aksi teror.

Di separuh awal belum terlihat konfliknya. Masih cerita lucu-lucuan dan memunculkan beberapa karakternya sebagai cameo. Di setengah akhir baru masuk konflik serius perang melawan musuh yang akan menghancurkan dunia. 

 

Toho Co., Ltd.

Di serialnya biasanya setiap episode akan berfokus menceritakan karakter tertentu. Namun di film ini fokusnya jelas cuma Keluarga Forger. Uniknya semua karakter pendukungnya tampaknya bisa dimunculkan, meski cuma sebentar-sebentar. Mungkin buat yang belum nonton serialnya tidak akan mengenal mereka dengan begitu baik dan akan sulit menerima jokes-jokesnya. Tapi tampaknya itu bukan masalah karena tidak begitu mempengaruhi ceritanya.

Film yang aman dinikmati fans maupun non-fans. Meski para non-fans mungkin akan melewatkan beberapa detail, namun rasanya akan tetap bisa mengikuti. Rekomen untuk fans maupun bukan fans yang ingin mengenal keluarga Spy x Family.

 



Wednesday, July 16, 2025

Tetris (2023)

Apple TV

 Ternyata bagus. Bukan cerita pembuatan gim Tetris, melainkan cerita bagaimana Tetris bisa mendunia.

Tetris diciptakan oleh seorang programer Uni Soviet, Alexey Pajitnov. Berkat kepopulerannya, banyak perusahaan gim melirik dan ingin menerbitkannya. Film ini menceritakan perebutan lisensi antara Mirrorsoft dan Nintendo. Satu perusahaan berusaha mencuri lisensinya dengan menyogok orang dalam, sementara yang lain berusaha menebusnya dengan cara yang adil melalui si pencipta. Henk Rogers (Taron Egerton) harus melawan politisi korup dan mempertaruhkan hidupnya untuk bisa mendapatkan lisensi gim di tengah kondisi politik yang memanas.

 

Apple TV

Nonton ini bikin ingat dengan Air (Ben Affleck). Film yang tegang soal negosiasi kesepakatan. Soal pertaruhan dan pengambilan keputusan. Tetris lebih ringan ditonton, namun tetap berhasil membangun adegan tegangnya. Ada beberapa bumbu aksi yang membuatnya jadi sangat film, tapi itu tidak masalah.

Taron Egerton bagus aktingnya. Padahal karakternya hanya orang biasa, tapi bisa membangkitkan rasa bahwa dia bukan Taron--malah jadi seperti Martin Freeman.

Villainnya juga bagus. Valentin Trifonov (Igor Grabuzov) bikin kita ingin dia mendapat nasib buruk di akhir film. Paling suka karakter Nikolai Benikov (Olef Shtefanko). Politikus yang awalnya dingin dan menakutkan namun ternyata orang yang adil.

Sangat rekomen. Drama yang tegang dan ringan ditonton.

 


 

Sunday, July 13, 2025

Ballerina (2025)

Lionsgate

 Bagus banget. Sayangnya adegan pembukanya jelek. Tidak bisa menjadi acuan untuk adegan puncak.

Memulai nonton dengan agak malas, tapi ketika mulai adegan aksi, wow, mantep banget.

Tidak ingin membahas soal ketidakmasukakalan adegan. Kita tahu ini buat seru-seruan aja. Yang jelas ini adalah film aksi yang dibuat dengan sangat sinematik. Adegan gelutnya sangat enak ditonton dan tidak bikin pusing. Efek-efeknya tidak berlebihan. Paling suka sama efek ledakan granatnya. Bam bum bam bum memuaskan.

Suka juga dengan pembangunan dunianya. Dari dialog-dialognya kita bisa percaya bahwa mereka adalah para asasin. Juga detail soal senjata dan istilah-istilah rahasianya.

 

Lionsgate

Sudah lupa dengan film-film John Wick terdahulu. Cuma ingat yang terakhir. Yang dulu-dulu cuma lewat aja. Tapi ketika melihat John Wick muncul di sini bisa senyum-senyum sendiri. Aura Keanu Reeves emang gak bohong. Anna de Armas juga bagus memerankan Eve. Di sini dia belum menjadi master seperti John Wick yang gelutnya tenang tanpa ekspresi. Eve masih sering terpojok, terluka, dan panik, dan akting Anna de Armas sangat bagus dalam menyajikannya.

Salah satu film terbaik tahun ini. 

Sangat rekomen buat yang suka gelut-gelut penuh ledakan dan gambar-gambar sinematik memanjakan mata.

 


Saturday, July 12, 2025

Thunderbolts* (2025)

Marvel Studios

 Sudah banyak mendengar review bagus dari film ini. Setelah menonton... Ya bagus sih, tapi tidak sebagus banget itu juga. Ada tema tentang kesehatan mental tapi tidak sedalam itu juga ceritanya. Karena banyak adegan lucunya.

Filmnya bagus karena seru dan lucu. Tapi kekurangannya minim adegan tegang. Kita tahu mereka pasti selamat entah bagaimana caranya. Dan satu yang tidak disuka dari Marvel, ceritanya tentang superhero tapi minim adegan penyelamatan warga. Lebih fokus ke cerita melawan musuh (dan melucu). Tidak hanya di film ini, tapi rata-rata filmnya Marvel. Di sini juga ada sih adegan menyelamatkan warga, tapi ya cuma sekilas aja. Selebihnya lebih fokus ke kisah para karakter utama.

Sejelek-jeleknya film DC, masih banyak adegan menyelamatkan warga, sehingga lebih kuat atmosfer superheronya.

Marvel Studios

Villain yang digambarkan sangat kuat di trailernya ternyata bisa dikalahkan gitu aja. Bahkan dengan cara yang klise. Padahal si Sentry (atau Void) ini keren banget, seperti Satoru Gojo yang tidak bisa disentuh dan bisa mengeluarkan Domain Expansion yang melahap seluruh kota. Mungkin akan menggunakan kekuatannya lagi di film berikutnya.

Suka dengan karakter Valentina. Villain yang punya kekejaman, sedikit bodoh namun pintar, namun juga punya alasan dari perbuatannya. 'Kebenaran tanpa kekuatan hanyalah sebuah opini.'

Sebagai hiburan, ini film yang seru dan lucu. Akting Florence Pugh juga menjadi nilai tambah. Tapi keseluruhan tidak ada hal yang berani. Masih dalam batas sebuah film fun yang main aman dan sebagai pengenalan karakter untuk film berikutnya.