Tidak sama dengan buku. Di buku murni horor, di film jadi kisah persahabatan dan harapan.
Lionsgate
Para remaja mengikuti lomba gerak jalan maut. Jika berhenti akan didor oleh panitia. Tidak ada garis finish. Siapa yang berdiri terakhir dialah pemenangnya dan berhak dikabulkan apa saja keinginannya.
Lionsgate
Visualnya bikin pusing, karena adegannya cuma jalan-jalan dan ngobrol. Banyak adegan cuma menampilkan kepala yang mentul-mentul naik turun. Jadi agak monoton. Berharapnya bisa sedikit lebih variatif gitu gambarnya.
Dialognya lumayan bagus. Karena memang dari novel. Tapi sudah lupa juga dialog di novel. Kayaknya sih tidak tidak seperti ini. Jadi mungkin sudah ditambahi.
Lionsgate
Untuk perbedaan dengan novel. Di novel sangat horor. Banyak deskripsi para peserta jalan kaki dengan celana kotor karena urin dan tahi, sol sepatu lepas, kulit mengelupas, hingga telapak kaki yang hancur dan kelihatan tulangnya. Dan mereka tetap berjalan. Ngilu banget.
Lionsgate
Di novel mereka saling bersaing. Di film mereka berteman. Bahkan harusnya ada satu karakter villain, karakter yang sangat jengkelin, yang menjadi rival Ray. Khasnya Stephen King. Di film tidak ada permusuhan seperti itu.
Lionsgate
Soal cerita malah lebih suka filmnya. Ngasih vibes positif dan simbol harapan bagi anak muda. Di film pun ada benang merah dan tujuannya. Di buku boro-boro. Bukunya mendapat kritik karena tidak ada konklusi, karena open ending dan cuma menuliskan kehororan jalan kaki maut. Tampaknya film ini menjadi versi yang diinginkan para pembaca tersebut.
Lionsgate
Kesimpulan. Filmnya kurang menghibur, bisa lebih baik lagi untuk teknisnya (makeup, visual), kurang horor (dibandingkan buku). Tetapi ada hal-hal baik di dalamnya; dialog, cerita, kisah persahabatan pemuda di ambang kematian.
Kamu sendiri yang menentukan, apakah suka dengan film orang ngobrol di jalanan dan mati satu persatu atau tidak.
Sejak dulu tidak pernah tertarik dengan genre zombie. Satu; saya tidak merasa genre ini seram (lebih takut sama hantu, makanya lebih suka film horor hantu). Dua; sering merasa malu sendiri atau cringe melihat akting para figuran yang jadi zombienya. Tiga; kadang para karakternya bikin gemes karena kebodohannya sendiri.
Kecuali yang zombienya adalah CGI dan penyebab mereka jadi zombie adalah hal mistis. Itu saya suka. Contohnya Pirates of the Caribbean: The Curse of the Black Pearl, atau The Lord of the Rings, atau Game of Thrones.
Disney
Meski begitu kadang juga mencoba nonton kalau ada yang ramai. Itung-itung agar tidak ketinggalan.
Ketika diingat-ingat lagi ada empat judul yang berhasil membuat suka dan terkenang.
Urutan tidak penting. Hanya berdasar tahun rilis saja.
**
1. Shaun of the Dead (2004)
Universal Pictures
Berkisah tentang sepasang sahabat yang menghadapi wabah zombie.
Meski genrenya komedi tapi adegan berdarah-darahnya cukup serem. Suka film ini karena sepasang karakter utamanya menghadapi para zombie dengan selow. Lagian para zombienya gak bisa mikir dan jalannya pelan, jadi tak perlu sepanik itu.
Universal Pictures
Duo Simon Pegg dan Nick Frost kompak koplaknya. Tapi meski koplak, cara menghadapi zombienya malah cukup masuk akal. Mereka bukan karakter utama yang menjadi jagoan dengan memberantas para zombie apalagi menyelamatkan umat manusia, melainkan hanya ingin mencari aman dan memikirkan keselamatan diri sendiri.
**
2. Zombieland (2009)
Columbia Pictures
Berkisah tentang 4 survivor wabah zombie yang menempuh perjalanan bersama.
Suka dengan film ini karena karakter utamanya adalah orang yang berpikir logis. Dan selalu disiplin dengan aturannya sendiri agar bisa selamat dari kejaran zombie. Seperti, aturan #1 adalah cardio. Lari. Ya, larilah jika bertemu zombie. Tak perlu sok jagoan dengan memilih melawan si zombie.
Columbia Pictures
Para karakternya dibuat bersenang-senang di tengah wabah zombie. Mereka bisa bepergian dengan mobil apa saja yang ditemukan di jalan, bisa ngambil makanan gratis dari supermarket, dan bisa tinggal di rumah-rumah mewah yang ditinggalkan pemiliknya. Jadi bukannya serem, kehidupan mereka malah asik dengan adanya wabah zombie. Seru banget ngikutin petualangan mereka.
Columbia Pictures
Udah gitu para castnya juga jempolan semua. Ada Woody Harrelson, Jesse Eisenberg, Emma Stone, dan Abigail Breslin saat masih imut-imutnya.
Dulu film ini sangat dinantikan kelanjutannya. Dan memang akhirnya ada sekuelnya 10 tahun kemudian. Meski bisa menikmati film kedua, yang berkesan bagi saya tetaplah film pertamanya.
**
3. One Cut of the Dead (2017)
ENBU Seminar
Tanpa ragu ini adalah salah satu film paling kreatif yang pernah ada. Film yang masuk dalam daftar film yang tidak ada duanya. Konsepnya sangat segar dan idenya brilian. Jadi akan lebih seru jika kamu nonton tanpa tahu apa-apa tentang film ini, dan mencari tahu langsung dengan menontonnya langsung.
ENBU Seminar
Film ini dibagi menjadi dua bagian. Nah, bagian awal cukup membosankan. Saya yakin banyak yang menyerah karena bosan sama openingnya itu. Jangan ditiru. Mereka adalah orang-orang yang merugi. Kamu harus bertahan menonton sampai bagian awal selesai dan berlanjut ke bagian dua, yang mana adalah bagian 'sesungguhnya' dari film ini.
ENBU Seminar
Inilah bagian terbaik film. Karena bagian ini akan menjadi penjelasan dan memberikan banyak twist yang berhubungan dengan bagian satu.
Ini ada trailernya. Tapi lebih baik di-skip aja dan langsung nonton filmnya jika sudah tertarik.
Semakin tidak tahu akan jadi semakin seru ditonton.
**
4. Kingdom (2019) - Series
Netflix
Jika tiga film sebelumnya ada muatan komedinya, atau sedikit memparodikan genre zombie, maka yang ini ceritanya serius.
Suka serial ini karena ceritanya tidak cuma dikejar-kejar zombie. Ada intrik politik tentang perebutan kursi tahta, ada kisah penyelidikan asal muasal wabah zombie dan cara mengobatinya. Bahkan zombie di sini hanya menjadi sebuah alat politik dari konflik kerajaan yang tengah berkecamuk.
Netflix
Andai saja tidak ada adegan aksi perang melawan zombie pun, serial ini tetap bagus. Karena drama dan ceritanya beneran bagus. Bikin terus penasaran di setiap episodenya.
Semua karakternya juga menarik. Protagonis dan villainnya sama-sama bagus. Dan kemasannya sangat pas. Tidak terlalu berat ditonton, tapi juga tidak terlalu ringan hingga membuat bosan. Tipe tontonan yang bisa dinikmati semua orang.
Netflix
Saat ini, nih serial sedang dinantikan season 3-nya yang entah kapan hilalnya. Tapi buat yang belum nonton, silakan tonton aja sekarang, tak perlu takut digantung. Karena konflik di season 1 & 2 langsung selesai, dan season 3 nanti bakalan menjadi petualangan baru bagi para protagonisnya.
Jika nonton ini dengan pikiran kritis pasti akan banyak protes. Tapi jika fokus ke cerita, lumayan bagus sih.
Pichouse Films
Para tokoh agama dibunuh oleh ninja misterius. Satria, Annisa, bersama para santri lain berusaha berlindung di pesantren mereka, sementara para ustad di tempat mereka pun terbunuh secara misterius oleh kekuatan gaib.
Pichouse Films
Awal film langsung disuguhi banyak adegan jumpscare dan sound effect yang berlebihan. Alamat film gak jelas nih. Tapi waktu karakter utama keluar dan mulai ngobrol jadi tertarik sama ceritanya.
Film horor yang punya cerita, membangun misteri soal menghilangnya orang-orang dan serangan santet. Seting tempatnya bagus banget. Di daerah tebing dan bangunan-bangunan kayu.
Pichouse Films
Karakternya tidak begitu kompleks tapi tidak membosankan. Berhasil bikin kita relate dan peduli dengan mereka. Aktingnya juga oke. Terutama Aurora Ribero dan Kevin Ardilova. Dan M. Iqbal Sulaiman sebagai sohibnya Satria.
Praktek santetnya digambarkan dengan bagus. Tidak terlihat asal atau malas dalam membuat adegannya.
Pichouse Films
Kekurangannya sih terlalu banyak jumpscare yang tidak ngagetin dan penggambaran yang berlebihan. Soal santet dan kesurupan contohnya. Harus banget dibuat berdarah-darah kek film Hollywood.
Padahal kalau dikemas secara gaib bisa lebih realistis. Soalnya ada adegan hantu bu ustadzah yang mengintip dari jendela dan itu serem.
Pichouse Films
Kesimpulan. Film horor yang punya cerita tapi belum sempurna. Memiliki potensi, namun hanya dijadikan 'film hiburan' yang berdarah-darah dan rame ditonton. Oke sih buat hiburan serem-sereman.
Film yang membosankan tapi ceritanya bikin penasaran.
Toho
Seorang pria terjebak tidak bisa keluar dari pintu stasiun Exit 8. Setiap koridor yang dia lewati hanya berulang dan berulang. Bisakah dia memecahan misteri koridor tersebut?
Ya bosenin karena cuma mondar-mandir aja di koridor. Tapi pasti penasaran kan, gimana nih cara keluarnya?
Toho
Kalau bosen nontonnya sambil mengerjakan hal lain saja, tunggu sampai sesuatu terjadi. Karena sebenarnya oke sih cerita dan konsepnya. Cuma ya itu, agak boring waktu si MC cuma jerit-jerit kebingungan. Setelah ada 'anomali' jadi lumayan seru kok.
Toho
Durasinya singkat, cuma 90 menit. Pesan yang disampaikan juga bagus. Meski tergolong film gaje, tapi endingnya memiliki kesimpulan dan bisa dimengerti. Jadi ada perasaan lebih baik setelah selesai nonton.
Kesimpulan. Oke sih buat yang ingin nonton film unik. Bisa memberikan perasaan frustrasi namun penasaran. Seperti ketemu game teka-teki yang sulit namun sangat ingin kita tamatkan.
Akhirnya menemukan film yang bikin bengong setelah kredit naik. Sudah baca bukunya, tapi di luar dugaan, filmnya bisa lebih bagus.
Palari Films
Ajo Kawir adalah jagoan yang tak pernah kalah berkelahi. Tetapi burungnya tidak bisa berdiri. Dan ini adalah lika-liku hidupnya dan perjalanan cintanya bersama Iteung.
Palari Films
Kemasan filmnya sangat teatrikal. Dengan akting kaku dan dialog sangat baku. Pasti ada yang bilang akting jelek dan dialognya tidak natural. Hei, hei, hei... memang seperti itulah tujuannya. Malah seharusnya beginilah film-film sastra dibuat. Jadi tercipta sebuah dunia alternatif.
Palari Films
Pertama nonton memang terlihat jelek. Tapi lama-lama akan terbiasa, karena kemasannya konsisten. Kita jadi nonton berfokus pada saling balas dialognya yang puitis. Seharusnya Bumi Manusia dibuat seperti ini. Bahkan bisa melihat Lelaki Harimau dan Cantik Itu Luka juga dibuat dengan kemasan seperti ini. Sangat grounding dan Indonesia sekali. Tidak dibuat kebarat-baratan, atau kekorea-koreaan.
Palari Films
Dan akhirnya bisa melihat lagi Reza Rahadian sungguh berakting. Lukman Sardi yang sungguh berakting. Marthino Lio yang sangat bagus sebagai MC, juga Ladya Cheryl yang berani. Bahkan tidak nyangka salah satu karakter diperankan Ratu Felisha.
Semua tampil sangat bagus dan menyatu.
Palari Films
Musiknya juga pas. Tidak berisik. Visualnya sederhana namun sangat indah memberikan penceritaan yang sangat baik.
Palari Films
Soal perbandingan dengan buku. Di novel, perhatian kita akan terpecah antara cerita dan susunan kalimat indah dan nakal Eka Kurniawan. Di film, ceritanya bisa lebih ditonjolkan, menampakkan benang merah cerita yang hanya samar-samar di bukunya. Kelebihannya, ciri khas Eka Kurniawan yang kadang lompat-lompat alur waktunya, atau bumbu mistis dan misteriusnya, bisa dimunculkan juga dalam film.
Perpaduan yang bagus antara Edwin x Eka Kurniawan.
Palari Films
Menurut saya, style film seperti inilah yang harus dilestarikan dan dijuluki sebagai film yang 'sangat Indonesia'. Sulit ditemukan di film lain.
Palari Films
Kesimpulan. Adaptasi yang sangat bagus. Film yang sangat bagus. Berkelas.
❖
* Ayo Bang Edwin, Bang Eka, bikin Lelaki Harimau dan Cantik Itu Luka. Meski yang terakhir sangat sakral.
Ternyata bagus banget. Tentang cinta, dendam, dan ilmu hitam. Judulnya misleading. Lebih pas Nyai Gowok. Atau Jaya & Ratri gitu.
MVP Pictures
Gowok adalah semacam kursus bercinta buat priayi muda. Jaya adalah putra cendana yg sedang dikursuskan di sini. Eh malah kecantol sama anak gadisnya si nyai. Jadilah drama tak direstui antara gadis terbuang dan priayi.
MVP Pictures
Openingnya memang bahas hal dewasa. Tp setelah Ratri & Jaya ketemu langsung terlihat arah ceritanya. Bagian dewasanya pun dikemas secara sopan. Tidak dibuat erotis. Memang ditampilkan karena bagian dari cerita. Bukan fan service.
Cuma yang kelihatan lucu waktu ada grafis h3nt4i wayang. Like, why? Entah apa kitab yang asli juga begitu.
MVP Pictures
Aktingnya bagus. Visualnya bagus. Ceritanya sederhana namun memiliki kedalaman. Karakternya juga punya kedalaman dan digambarkan dengan baik. Bahkan karakter muda dan dewasa pun bisa punya kemiripan.
Dialognya bagus. Ada yang dibahas gitu. Banyak mengajari sejarah dan pengetahuan baru. Bukan dialog yang kosong. Harusnya bisa lebih baik kalau pakai kalimat baku. Tapi gapapa. Udah bagus dan enak disimak.
MVP Pictures
Kekurangannya. Cuma tidak suka dengan style Hanung yang warnanya ngejreng. Juga pemakaian CGI yang tidak perlu atau akting pendukung yang belum sempurna. Tapi itu bisa dimaklumi karena pengambilan gambarnya enak dan ceritanya bagus.
Saya bukan fans Hanung. Malah cenderung gak suka sama style dia. Tapi ini mungkin salah satu film terbaiknya. Tidak mengira dia bakal bikin film seperti ini. Tidak begitu komersil dan terasa lebih berkarakter dan solid.
MVP Pictures
Buat yg bilang kenapa Indonesia ga ada film sejarah kek drakor, nih ada. Jika nih film buatan Korea, diperankan Ji Changwook, Han Sohee, dan Song Hyekyo, pasti langsung dipuja-puji setinggi langit. Karena adegan yang berani dan tema cerita yang tidak biasa. Sayangnya, karena cuma dibintangi aktor Indonesia, dan judulnya agak aneh, jadi orang meremehkannya.
Dulu suka nonton Korea karena unik. Tapi sekarang kebalik. Merasa bosan nonton Korea karena akting, cerita, dan karakter yang gitu-gitu aja, dan jadi suka nonton film Indonesia yang beragam. Terutama akting dan karakternya.
MVP Pictures
Kesimpulan. Ada beberapa kekurangan, tapi itu tidak berarti. Film yang sangat underrated. Rekomen. Salah satu film Indonesia terbaik tahun ini.
Jadi penasaran karena ramai. Ternyata sudah nonton yang versi asli (Spanyol). Dan waktu itu bisa menebak arah endingnya, meski tidak bisa nebak detailnya.
Falcon Pictures
Sesosok mayat hilang dari lab forensik kepolisian. Jefri, sang suami mendiang, dipanggil ke kepolisian untuk dimintai keterangan. Sekaligus dicurigai karena dia yang diuntungkan oleh menghilangnya mayat tersebut.
Falcon Pictures
Aktingnya kaku, teatrikal. Bahasanya baku. Tapi itu bagus. Cocok dengan ceritanya. Dialognya jadi mudah dipahami. Lagipula dialognya juga penting, menjadi bagian dari cerita, bukan dialog yang bertele-tele kek drakor. Jadi selalu ingin menyimak percakapannya.
Arya Saloka yang tampil paling bagus. Tapi tetap menyatu dengan akting pemain lain.
Falcon Pictures
Tempo cerita cepat. Tidak banyak membuat adegan sok sinematik. Sehingga durasinya sangat ringkas. Kurang dari dua jam tapi banyak peristiwa yang terjadi. Banyak ngajak tebak-tebakan. Secara pribadi sangat menghargai film yang seperti ini, yang fokus memberikan cerita. Bukan pamer adegan yang dipanjang-panjangin tapi ujungnya bikin boring karena mengganggu tempo cerita.
Ini film yang kalau lihat klipnya sepotong kurang menarik, tapi saat nonton bagus.
Falcon Pictures
Suka juga dengan pemilihan karakter yang dibikin sangat melokal. Tidak dimirip-miripin sama versi orinya.
Kesimpulan. Adaptasi yang bagus. Karena memberikan style yang berbeda (ringan dan fokus ke cerita). Di versi orinya lebih kental bagian dramanya.
Nonton cuma iseng sambil tiduran, tapi bisa betah sampai tamat. Padahal juga sudah tahu ceritanya (lupa-lupa dikit lah). Rekomen.