Ternyata bagus. Tidak kalah sama seri sebelumnya (Mad Max: Fury Road (2015)). Tetap penuh adegan aksi dengan peperangan seru dan tegang. Bahkan bisa dibilang unggul dari seri sebelumnya soal drama dan sisi emosionalnya.
Akting Anya Taylor-Joy, Chris Hemsworth, Tom Burke, dan pemeran Furiosa kecil (Alyla Browne), bagus semua. Minim dialog tapi bisa menggambarkan emosi dari raut wajahnya. Soundnya juga bagus.
Kekurangannya terlalu banyak memakai CGI. Sebenarnya bukan kekurangan. Toh tetep seru. Cuma karena seri sebelumnya banyak adegan praktik nyata tanpa CGI jadi yang seri ini terlihat tidak senyata itu. Tapi sekali lagi, perang-perang dan adegan aksinya tetap seru!
Penasaran karena katanya lebih bagus dari Frieren.
Pertama nonton langsung mendapat kesan, gila, ini sih bukan anime, sudah sekelas serial HBO. Karena membahas astronomi dengan cukup detail dan tentang agama juga. Jadi paham kenapa pada nyebut ini the best anime. Konfliknya sangat berani. Bagusnya sih bahkan untuk orang yang awam astronomi macam saya, anime ini bisa membuat kita tetap paham dengan apa yang mereka bicarakan. Serasa nonton film dokumenter jadinya.
Bercerita tentang para peneliti heliosentris yang kucing-kucingan dengan gereja karena ajaran heliosentris dianggap sesat. Singkatnya tentang sains vs agama. Akan menemukan banyak kesamaan dengan kejadian di dunia nyata.
Madhouse
Para karakternya bagus-bagus. Paling suka sama karakter Badeni, Yolenta, dan Nowak. Badeni adalah karakter pintar namun tidak dibuat bersih atau baik hati seperti karakter pada umumnya. Dia jenius, tapi egois. Orang yang sangat mengikuti nalarnya. Nowak adalah villain yang sangat greget. Dia pun hanya menjalankan tugasnya sebagai algojo. Jadi segala kelicikan dan kekejamannya punya alasan. Tapi tetap jengkel juga sama dia. Sangat penasaran akan seperti apa dia kalahnya. Dan kalahnya pun sangat epik.
Dialog menjadi kekuatan utama anime ini. Adegan-adegannya banyak cuma ngobrol tapi bikin tegang dan gak bisa berpaling dari layar. Jadi ingat Game of Thrones.
Madhouse
Kekuarangannya; ada bagian-bagian yang terasa membosankan, karena lama-lama jadi sadar akan pola ceritanya yang diulang-ulang. Untunglah di bagian akhir kembali greget dan memuaskan.
Bagaimana dibandingkan Frieren. Saya pribadi lebih suka Frieren. Frieren memiliki sebuah keunikan
dan kesegaran tersendiri. Sementara Orb adalah anime dengan tema sangat
berbobot, itu saja. Para
karakternya juga lebih ikonik Frieren. Meski suka dengan Badeni, tetapi tidak sampai
membuat kita ngefans seperti ke karakter anime lainnya.
Madhouse
Tetapi melupakan itu, Orb: On the Movement of the Earth adalah salah satu anime terbaik dan wajib untuk ditonton. Banyak pesan dan filosofi tentang kehidupan, kebenaran, kepercayaan, dan hal-hal berat lain yang setelah nonton rasanya seperti habis mengikuti kuliah.
Mungkin cocok diadaptasi oleh HBO atau mana saja, karena memang feelnya seperti menonton serial amrik. Jadi rasanya oke jadi live action tv series.
Wajib ditonton buat yang suka teori konspirasi bumi datar.
Saya termasuk yang mempertanyakan, ngapain sih dibikin sekuel? Ntar malah gak nyambung lagi ceritanya. Menuduh ini hanya aji mumpung dari kesuksesan KKN di Desa Penari. Tapi setelah nonton, ternyata bagus.
Pembuatannya terlihat niat. Dari visual yang bagus banget, seting tempat yang juga serius tanpa jalan pintas berupa CGI, dan akting yang... oke lah.
Adegan awal belum terlihat bagusnya. Berseting di pasar dan keliatan figurannya pada mondar-mandir dengan muka kaku. Tapi setelah memulai perjalanan masuk hutan dan melewati jembatan yang khas itu langsung jadi menarik. Pemandangan jembatan, hutan dan pegunungannya terlihat bagus banget. Embel-embel filmed for IMAX-nya bukan gimmick berarti. Pasti bagus banget jika ditonton di studio IMAX.
Setelah masuk ke desa dengan disambut gerbang batu dan asap sesajen yang mengepul, langsung jadi semangat nonton. Berikutnya sangat enak mengikuti ceritanya. Aktingnya mungkin masih agak kaku, tapi gak masalah. Masih bisa menyampaikan adegan dan ceritanya dengan sangat baik.
MD Pictures
Kisahnya mirip dengan KKN pertama. Tentang beberapa pemuda yang datang ke Desa Penari. Tapi yang ini berseting di tahun 80-an, dan Mila, si tokoh utama, yang bagus banget bodynya, datang dengan sengaja karena ingin bertemu dengan sesepuh desa.
Peralihan sutradara menjadi Kimo agak bikin khawatir, takutnya warna film akan berubah. Namun warna filmnya masih sama dengan KKN pertama. Dengan penceritaan yang tenang dan mengalir enak. Meski ada beberapa tambahan adegan sadis yang nanti kita bicarakan.
Sangat suka dengan keseriusan pembuatan filmnya yang konsisten tanpa CGI. Bangunan-bangunan kuno, ular, dan bahkan istana Badarawuhi terlihat sebagai set asli. Memang harusnya seperti inilah film horor.
MD Pictures
Makin ke belakang akting Maudy Effrosina sebagai Mila juga semakin baik. Makin terlihat kompleksitas dia sebagai karakter dengan beban yang harus dipikul, dan dia menggambarkannya dengan sangat baik. Keputusan yang cerdik juga dengan memilih Aming sebagai Mbah Buyut muda. Aming dan Diding Boneng terlihat setara dan mirip juga.
Tapi yang paling bagus sih akting Aulia Sarah sebagai Badarawuhi. Aura anggun, berkuasa, dan mengintimidasinya dapet banget. Salut juga buat sinematografer atau sutradaranya, yang menyajikan kemunculan Badarawuhi dengan apik seperti filmnya Spielberg. Dan ada adegan transisi yang juga keren banget. Good job lah.
MD Pictures
Salah satu adegan paling bagus juga: adegan ritual dan menarinya. Koreografi tarian, keluwesan para penarinya, ditambah para artisnya yang tubuhnya menari tapi wajahnya menangis, itu bagus banget penggarapannya. Adegan yang sangat rumit dan pasti sulit dibuat. Belum lagi tentang Istana Badarawuhi yang digambarkan dengan sangat pas. Tidak kurang dan tidak berlebihan juga.
Adegan paling horor sih adegan saat ditandu dan ditutupi kain tapi tangannya masih menari-nari. Itu horor banget.
Kekurangannya, ada adegan kesurupan hingga terbang/terlempar dan melukai diri sendiri. Itu adegan yang bikin tidak realistis. Jadi seperti film amrik. Rasanya tidak perlu.
MD Pictures
Kesimpulan. Ini film yang mirip dengan KKN pertama. Dengan upgrade visual dan tambah serius penggarapannya. Penceritaannya juga agak mikir dan dibikin twist. Agak bingung juga sih soal ritual dan urusan kawaturih. Tapi jika suka KKN pertama akan suka juga dengan film ini. Masih terlihat nyambung dengan film pertama.
Ini film yang bagus. Ceritanya solid berpegang pada budaya kejawen. Jika sering baca kisah orang diculik jin atau pembahasan dunia gaib menurut islam, kamu akan merasa bahwa cerita film ini realistis. Rasanya kebencian terhadap film ini hanya karena kesalahpahaman. Publik terbawa arus kebencian karena kesuksesannya. Atau karena tidak ada adegan gelap-gelapan dan ngagetin sehingga disebut enggak serem.
Saya jadi ingat Kangen Band yang dulu dibenci, tapi kini jadi dihormati. Rasanya film ini (KKN universe) juga begitu. Mungkin sekarang banyak dibenci. Tapi suatu hari ketika kebencian itu surut, orang akan mulai menyadari bahwa film ini bagus. Karena karya yang bagus pasti akan berumur panjang. Jadi biarkan waktu yang menjawabnya.
Bercerita tentang Bumi di masa depan di mana manusia mulai melakukan
ekspedisi ke planet lain serta teknologi 'mencetak' manusia.
Ceritanya bagus tapi pace-nya berantakan. Di bagian awal membosankan. Entah kenapa bisa jauh banget stylenya dibanding Parasite. Lebih mirip dengan Snowpiercer. Seperti film Hollywood biasa. Baru seru setelah mulai konflik di planet Niflheim. Agak sadis dan sedih karena adegan membunuhi makhluk 'creeper' penghuni planet.
Yang langsung terasa bagusnya sih akting Robert Pattinson. Jadi beda banget karena berperan sebagai orang yang agak bego dan naif. Mungkin layak masuk nominasi. Mark Ruffalo yang jadi villain juga sukses bikin gregetan. Karakter lain juga bagus-bagus. Intinya kita bisa peduli, suka, atau jengkel dengan para karakternya.
Visualnya bagus. CGI-nya oke. Tidak ada keluhan.
Pesan-pesannya bagus. Menyinggung isu penjajahan dan kejahatan manusia.
Tempo penceritaan saja yang rasanya kurang. Andai dikemasnya dengan lebih enak mungkin bakal lebih sukses filmnya. Atau bagian awal dipersingkat. Bisa jadi film dengan plot sederhana dan menghibur.
Lumayan untuk hiburan. Terutama jika suka Robert Pattinson.
Drama yang sangat dinantikan, karena menjadi reuni sutradara Kim Wonseok dan IU (Lee Jieun) yang sebelumnya bekerja sama lewat My Mister dan berhasil menang Best Drama Baeksang. Kali ini mereka bekerja dengan penulis Lim Sangchun yang juga sudah menyabet Baeksang lewat When the Camellia Blooms. Dua seniman yang sudah akrab dengan Baeksang, tentu tak sabar bakal seperti apa hasilnya.
Menceritakan kisah hidup Oh Aesun dan Yang Gwansik, pasangan yang menikah muda dan menjalani pahitnya dunia karena hidup miskin.
Di luar dugaan dramanya sangat populer. Bahkan sebelum tayang pun sudah memprediksi drama ini akan masuk ajang penghargaan, tapi tidak menyangka akan jadi sepopuler ini. Karena kepopulerannya jadilah muncul pendapat yang berseberangan. Sebagian mengatakan tidak betah nonton, sebagian mengatakan masterpiece.
Tapi ini drama yang bagus. Ya, memang di awal sangat emosional dan sehabis itu tensi cenderung menurun. Mungkin karena itu banyak yang kecewa. Tapi selebihnya, selalu ada pesan-pesan di setiap episodenya. Alurnya juga dibuat maju mundur, mirip WTCB, dan dibuat beberapa twist dan kejutan kecil. Endingnya pun memuaskan, lagi-lagi dikasih kejutan kecil, yang membuatnya jadi berkesan.
Netflix
Sangat menjagokan IU menang Best Actress Baeksang, karena totalitasnya di drama ini. Dia juga yang menjadi daya tarik popularitas drama ini (dan Park Bogum). Tapi rupanya itu saja tidak cukup. Semoga lebih beruntung di kesempatan berikutnya.
Yeom Hyeran sudah jelas GOAT sih. Dia karakter yang paling strong. Bukan soal penulisannya, tapi soal akting dan keberadaannya. Setiap dia muncul pasti langsung sedih dan kasihan lihat wajahnya. Padahal karakternya galak dan suka marah-marah.
Para karakternya ditulis dengan baik. Heran sama yang protes karakternya begini begitu, padahal malah para karakter di sini sangat manusiawi. Mereka banyak berbuat kesalahan dan penuh kekurangan. Seperti layaknya orang biasa. Itulah inti drama ini.
Netflix
Konfliknya sederhana. Mengambil isu kemiskinan, mengejar mimpi, pendidikan, dan hubungan orangtua dan anak. Itu yang membuat banyak orang merasa relate.
Seting dunianya pun sangat megah. Konon menggunakan banyak efek CGI yang bahkan saya tidak sadar jika itu ternyata cuma CGI. Di adegan-adegan salju misalnya. Jelas drama yang penggarapannya tidak main-main.
Bukan drama yang akan saya belain 'kalian harus nonton ini!', karena mengerti banyak orang yang mungkin tidak akan bisa menikmatinya. Ini bukan drama yang semudah itu ditonton. Tapi tetap menjadi salah satu drama terbaik yang ada di luar sana. Dan sangat rekomended.