Tuesday, December 19, 2023

Yuni (2021) - review film

Kharisma Starvision Plus


 Sudah denger ini film bagus. Tapi selalu skeptis sama film indo yg dibilang bagus, karena sering yang dibilang bagus cuma bagus berkedok promo aja. Tapi ternyata yang ini bagussss benerannn. Ini film yg Indonesia banget. Sederhana, kucel, jujur, enggak ngikut2 film luar. Sudah lama gak lihat yg seperti ini. Style seperti ini yg harus dipertahankan di film indo, bukannya ngikut2 style hollywood/korea tp malah fail. Pokoknya suka bgt sama style film indo yg macam ini. Keren banget. Harapan buat perfilman indonesia.

Ini film slice of life tentang kehidupan Yuni, gadis beranjak dewasa yang kini duduk di bangku kelas 3 SMA. Entah yang terjadi di sini beneran di dunia nyata atau enggak, tapi di tempatnya Yuni ini anak-anak perempuan biasanya pada langsung nikah begitu lulus sekolah. Dilamar orang dan dijadikan istri orang lebih tepatnya. Bahkan tak jarang yang udah hamil duluan atau udah nikah di usia sekolah. Yuni yang merasa terkekang dengan kehidupan semacam itu memiliki mimpi untuk bisa melanjutkan kuliah agar bisa keluar dari jerat dunia perjodohan macam itu.

Style filmnya tenang. Sangat minim memakai musik. Adegan-adegannya yang sepi dibangun dengan sangat baik. Bikin mata terus fokus ke layar meski karakternya gak ngapa-ngapain. Seting tempat, makeup, dialog, akting, semuanya sangat natural. Sampai eggak sadar yang artis itu yang mana, karena tampaknya orang biasa semua yang main. Dan karakternya natural semua. Seting tempatnya juga sangat alami dan nyata.

Sangat suka dengan detail-detail kecil yang bikin filmnya lebih hidup dan nyata. Seperti penggambaran Yuni yang terobsesi dengan warna ungu, dengan motor mBit yang diblok skotlet ungu, itu real ABG Indonesia banget. Terus kamar para cewek ABG yang penuh dengan dekorasi puisi, gambar hati, lengkap dengan lampu kelap-kelip. HP yang layarnya retak. Lalu obrolan gak penting para ABG. Rasanya seperti ngikut di kehidupan mereka.

Intinya, hanya dengan visual sederhana dan penggambaran hidup mereka, kita langsung mengerti tentang kondisi ekonomi atau kondisi kehidupan mereka.

Ada satu adegan bagus di mana salah satu karakter nangis, dan tiba2 rasanya ingin ikut nangis juga. Padahal itu cuma adegan singkat dan tidak dikasih musik melow macam drakor. Hanya dengan ekspresi dan bahasa tubuh kita sudah bisa merasakan kepedihannya. Itu keren banget.

Juga saat ada adegan perpisahan. Padahal cuma diceritakan dengan biasa tapi bisa syok mendengarnya.

Setelah tahu ada film indo sebagus ini, kini jadi ada semangat untuk nonton film indo lain. Mungkin masih ada hidden game lain yang belum ketemu. Ternyata ada kemajuan untuk film Indonesia. Semoga saja film semacam ini bisa dapat lebih dikenal dan diapresiasi oleh lebih banyak penonton.




Sunday, December 17, 2023

Concrete Utopia (2023) - review film

Lotte Entertainment

Setelah bencana besar meluluhlantakkan negeri, sebuah apartemen tetap berdiri. Menjadi dilema ketika mereka yang di luar apartemen mencoba masuk, sedangkan para penghuni apartemen berusaha menjaga apartemen mereka tetap nyaman dan aman untuk mereka tinggali.

Bagus filmnya. Kelihatannya film bencana alam efek-efekan. Ternyata lebih ke film drama.

Konflik sederhana tentang orang-orang luar yang mencoba masuk, dan para penghuni asli yang berusaha menghalau mereka agar tidak masuk.

Bikin bingung juga sih, mau diterima nanti menuh-menuhin tempat, kalau tidak diterima kan lagi bencana alam. Katanya harus saling membantu. Jadilah perang antara orang luar vs orang dalam. Pengungsi vs penghuni asli. Pilih membantu demi kemanusiaan atau hidup ngurusin diri sendiri aja, yang mana lebih masuk akal.

Perangnya lebih ke arah politik. Dengan menunjukkan bagaimana cara Sang Pemimpin mempertahankan apartemennya sekaligus menjaga orang-orang di dalamnya tetap hidup. Sang Pemimpin ini digambarkan dengan sangat bagus. Boleh jadi dialah villain di film ini, tetapi dia melakukan semua perbuatannya demi para penghuni apartemen juga. Mau disalahin tapi dia ada benarnya juga.

Penampilan Lee Byunghun super banget menjadi si pemimpin. Sampai aktor-aktor lain terasa cuma jadi pemeran pendukung. Sudah lama tahu namanya tapi baru ini nonton filmnya.

Meskipun visualnya tidak semegah film Hollywood namun penggambaran dunia apokalipsnya cukup dalam. Sampai terbawa suasana dan berpikir bagaimana kalau kita yang berada di dunia itu.

Film yang abu-abu. Tidak ada yang mutlak benar atau mutlak salah. Tentang orang yang bertindak berdasar hati vs yang bertindak berdasar pikiran. Masing-masing tokohnya punya pendirian masing-masing dan ada benarnya. Ada yang memilih tetap mau membantu sesama, ada yang memilih hidup demi diri sendiri aja. Kira-kira kamu pilih yang mana?

Sangat rekomended.



Tuesday, December 12, 2023

Pearl (2022) - review film

A24


Lanjutan dari film X (2022) tapi ini prekuel yang menceritakan origin story si Pearl.

Pearl adalah gadis muda yg tengah ditinggal suaminya berperang dan terjebak hidup di peternakan keluarganya bersama kedua orangtuanya. Didorong rasa kesepian dan frustrasi, dia mulai merencanakan buat pergi meninggalkan peternakan keluarganya demi mengejar mimpinya menjadi penari terkenal. Namun kehidupan tidak selalu sesuai keinginan kita.

Filmnya bagus. Dan aktingnya Mia Goth bagus banget.

Lebih banyak porsi dramanya. Dibanding horor lebih ke cerita sedih sebenarnya. Karena nasib si Pearl ini kasihan, tapi ya gimana lagi, dia sendiri kurang lurus jalan pikirannya.

A24

Akting Mia Goth super banget. Emosinya yang berubah-ubah dan meledak-ledak terasa menakutkan sekaligus bikin iba. Sesaat kita merasa mengerti pada perasaan hatinya, saat berikutnya dia jadi orang yang bikin kita lari.

Salah satu karakter psikopat terbaik. Pearl ini sangat manusiawi. Dia bukan karakter dingin yang asal ngebunuh seperti kebanyakan karakter psiko umumnya. Si Pearl ini punya tujuan; dia hanya ingin bahagia. Dia selayaknya manusia lain yang punya keinginan duniawi, punya mimpi, yang membuatnya terasa memiliki hati. Namun ketika dunia membuatnya kecewa, dalam sekejap dia berubah dikuasai oleh amarahnya.

Jadi dia hanyalah seorang gadis lugu, tapi ada sesuatu yang salah padanya. Itu yang membuatnya serem namun terasa relate dengan kita.

Mia Goth gak perlu pakai 'tatapan jahat' buat menggambarkan kebengisannya. Ini yang bagus dari aktingnya. Seperti di adegan terakhir. Pearl dan lawan mainnya cuma ngobrol curhat biasa, namun lama kelamaan si lawan bicara mulai sadar ada yang salah dengan Pearl, dan tensi berubah tegang dengan sangat smooth. Adegan puncak yang keren banget.

Film horor yang unik. Tak hanya bikin ngeri tapi juga bikin iba.



Thursday, September 28, 2023

Talk to Me (2023) - review

A24


 Lumayan.

Termasuk film unik khas A24, tapi bukan yang luar biasa banget. Bisa dibilang 'punya kelas' karena tidak menjual jumpscare. Akting dan visualnya bagus, tapi ceritanya sederhana saja.

Tentang anak-anak remaja yang main jelangkung tangan buntung yang bisa membuat mereka berkomunikasi sekaligus dirasuki hantu. Kurang kerjaan banget kan.

Karakter utamanya bikin jengkel. Konflik dan masalahnya terjadi karena keegoisan karakternya. Dan karena rasa penasaran. Khas film horor. Karakternya tipikal yang gak bisa mikir logis dan cuma ngikutin keinginan. Jadi tidak simpati sama karakternya tapi malah mangkel. Sukurin.

Semua itu tak akan terjadi jika para karakternya punya ilmu ikhlas atau ngikutin pengajiannya Utadz Faizar. Atau setidaknya gak usah neko-neko.

Sebagai film horor tetap berhasil memberikan hiburan. Tetap berhasil bikin tegang dan syok. Tapi bukan yang bakal bikin keinget sampai takut ke kamar mandi malam-malam.

Katanya sudah akan dibuat film kedua. Tetap penasaran sih. Karena temanya lumayan menarik dan ada misteri tentang si tangan yang belum dijawab.



Sunday, September 24, 2023

Mask Girl (2023) - tv series review

Netflix


Bagus banget.

Nonton karena penasaran ingin lihat Minseo, gak tahu cerita soal apaan. Ternyata ceritanya bagus dan banyak kejutan. Alurnnya gak ketebak. Tipikal show yang gak perlu nonton trailer atau baca sinopsisnya. Langsung coba aja nonton. Makin gak tahu makin bagus.

Kalau sudah tertarik silakan stop baca sampai di sini dan langsung nonton aja.

Kalau belum tertarik atau gak tertarik dan pingin tahu tentang apaan, mari lanjut.

Bercerita tentang Kim Momi, gadis yang sejak kecil punya cita2 ingin jadi penyanyi. Tapi kenyataan berkata lain, karena dia tumbuh dewasa dengan wajah jelek, sehingga sering jadi bahan ejekan dan harus mengubur mimpinya. Tapi semangatnya masih hidup jadi dia menjadi artis streaming dengan topeng untuk menutupi wajahnya.

Episode 1 full komedi yang sangat kocak. Awalnya ngira ini drakor komedi. Tapi semua berubah setelah episode 2. Ceritanya berubah haluan jadi serius dan kelam. Tentang kriminal, penderitaan dan balas dendam.

Penceritaannya juga unik. Setiap episode memuat kisah hidup dan POV dari masing-masing karakter. Semua karakternya abu-abu, tidak ada yang baik dan tidak ada yang jahat. Semua bertindak karena kondisi hidupnya. Jadi gak tahu mau jagoin yang mana.

Aktingnya bagus-bagus. Paling keren sih si nenek gila. Yeom Hyeran for Best Actress? Pemeran Kim Momi juga bagus semuanya. Tapi paling suka sama Im Jina (Nana). Aura jahat dan tertekannya dapet. Sayangnya '3 generasi Momi' ini terasa beda-beda karakternya. Diperankan 3 artis berbeda namun tidak terlihat kemiripannya. Jadinya kayak 3 karakter yang beda.

Kekurangan. Ep 1-3 adalah masterpiece. Tapi setelah itu terasa turun. Enggak jelek. Tetap tegang dan emosional, tapi sudah tidak seliar episode awal. Bahkan ada beberapa yang mungkin tidak masuk akal atau terlalu fiktif, tapi ya oke lah, intinya tetap tegang dan menghibur. Aktingnya juga stabil, bagus terus sampai akhir.

Keseluruhan, ini serial yang seru dan banyak kejutan. Visual dan aktingnya bagus. Emosinya juga hidup, bikin tegang, perih, tapi tetap ada lucunya. Mirip sama 'Parasite'. Orang yang melakukan kejahatan bukan karena jahat, tapi karena kondisi. Sangat rekomended.




Thursday, September 14, 2023

One Piece (2023- ) - tv series review

Netflix


 Awal nonton jelek. Dari akting Gol D. Roger saat eksekusi, tawanya keliatan dibuat-buat, gak kaya di manga. Juga akting para figurannya yang datar. Belum lagi kostum para karakternya yang bersih-bersih, sehingga terlihat seperti event cosplay. Live action bajak laut paling populer adalah Pirates of the Caribbean, yang visualnya believeable banget di mana orangnya kotor-kotor karena di laut terus, jadi gak pernah mandi. Di OP ini bajak laut pada bersih-bersih kayak orang lagi piknik. Bajunya juga pada baru semua.

Saat Alvida muncul, dan Luffy juga muncul pertama kali, masih terlihat jelek aktingnya, terasa kurang lah. Apalagi saat Luffy teriak-teriak ke langit ngikutin adegan di manga. Kayak gak masuk gitu adegannya.

Akhirnya cuma nonton nunggu bosen aja...

Tapi setelah masuk ke cerita jadinya sangat enak diikuti. Luffy jadi kelihatan vibe positifnya. Dan ceritanya langsung menarik bikin penasaran. Semua kekurangan pada kesan pertama jadi bisa dimaklumi. Ya memang inilah dunia One Piece. Warna-warni dan sangat kartun. Karena kemasannya fun, banyak komedinya, jadi bisa cocok sama style visualnya.

Adaptasi yang sangat setia pada originalnya. Bahkan sampai baju yang dipakai dibikin semirip mungkin (sayang Luffy gak pakai sendal jepit). Ceritanya juga tidak beda jauh dari versi ori. Diringkas tentu saja, tapi masih sangat plek dengan aslinya. Sampai style fish-eye atau apalah itu, yang telapak kaki Sanji atau tinju Luffy jadi gede di depan layar, yang sering dipakai di manga juga sering dipakai di sini.

Seperti versi ori, yang bikin betah sebenarnya bukan ceritanya, tapi sifat para karakternya dan kisah persahabatan mereka. Ketika sudah dibuat kenal dengan Luffy, maka kita akan terpanggil untuk setia mengikuti petualangannya. Kita akan ikut kemanapun dia pergi. Inilah salah satu keberhasilan show ini. Adaptasi ini berhasil membuat penonton suka dengan karakter Luffy. Bocah koplak yang cuma cengar-cengir tapi bakal membuat hati tergetar ketika dia udah bilang, "Karena kamu adalah temanku."

Tak hanya Luffy, karakter lainnya pun bisa digambarkan dengan sangat baik. Terutama Kru Topi Jerami. Yah, mungkin ada perbedaan di sana-sini dengan versi ori, tapi intinya semua karakternya bisa disatukan menjadi satu tim yang kompak dan bisa disukai penonton. Dan mungkin ada karakter yang terasa kurang cocok, tapi masih bisa dimaklumi, tidak mengganggu jalannya cerita.

Kekurangan. Seperti di awal, kostum dan riasan yang terlihat seperti cosplay. Enggak jelek sebenarnya, karena masih masuk dengan konsepnya yang komedi. Hanya sedikit berharap adaptasi ini bisa lebih realistis lagi. Sebenarnya ingin melihat diadaptasi jadi realistis macam Kenshin gitu.

Terus akting dan adegan aksi, ya oke lah. Bagus tapi bukan yang luar biasa. Akting Luffy dan Nami (dan Usopp?) yang terlihat paling menonjol, karena banyak menunjukkan adegan emosional.

Secara teknis bukan show yang luar biasa banget. Tapi karena keberhasilannya menceritakan ulang sesuai versi ori, dan menghidupkan karakternya dengan vibe yang sesuai dengan versi ori, show ini jadi sangat asik diikuti.

Kesimpulan. Sangat rekomended. Show ringan yang lucu, seru, dan sarat dengan nilai persahabatan dan saling tolong menolong yang bikin tergerak.

Apalagi buat yang belum nonton animenya. Nonton ini bisa hemat banyak waktu. Sangat cocok buat yang penasaran sama hype One Piece tapi males memulai karena udah ketinggalan 1000 chapter. Atau yang sekedar ingin mencari jawaban dari pertanyaan, 'Kenapa sih One Piece populer banget?'

Enggak tahu apakah para fans puas dengan adaptasi ini, saya hanya penonton biasa dan hanya baca manganya. Untuk para fans, apakah kalian puas dengan adaptasi ini?

Semoga kualitas season 2 bisa tetap terjaga.



Thursday, August 31, 2023

Twisted Metal (2023- ) - tv series review

Peacock


Genre: komedi, aksi, post-apocalyptic

Dev: Rhett Reese, Paul Wernick, Michael Jonathan Smith (based on Twisted Metal by Sony Interactive Entertainment)

Cast: Anthony Mackie, Will Arnett, Stephanie Beatriz, Neve Campbell, Mike Mitchell, Samoa Joe, Thomas Haden Church

Prod: Peacock


Lumayan. Seru.

Di sebuah dunia post-apokaliptik, John adalah warga luar tembok yang hidup sebagai pengantar susu (kurir) dari satu kota ke kota lain. Suatu hari dia mendapat paket dengan jarak terjauh, dengan iming-iming jika berhasil dia akan menjadi warga di dalam tembok. Berhasilkah dia mengantar tuh paket?

Twisted Metal adalah serial yang diadaptasi dari sebuah game PS1. Tentang battle antara mobil-mobil yang pada punya senjata. Begitu juga di serial ini. Kita akan diajak si John berpetualang dengan mobil perangnya untuk mengantar paket dan melawan penjahat-penjahat yang dia temui di jalan.

Bagian mobil-mobilnya tidak mengecewakan. Banyak menggunakan mobil asli dan adegan asli, minim CGI. Puas banget lah nonton mobil-mobilnya. Subaru-nya aja udah cukup buat bikin betah nonton.

Peacock

Plotnya juga seru. Dengan banyak karakter yang punya latar belakang dan motivasi masing-masing. Komedinya lumayan dapet. Beberapa ada yang fail atau cringe, tapi gapapa lah. Intinya suasananya lucu, tidak begitu serius, jadi bisa ditonton sambil nyantai dan sangat menolong ketika ada adegan yang terlihat 'murah'.

Kekurangannya. Lead ceweknya annoying banget. Kurang cocok meranin karakter lucu. Beliau ibu-ibu tapi kelakuannya seperti anak remaja yang banyak ngambek. Entah ya, aktingnya terasa kurang cocok gitu. Jomplang banget sama Anthony Mackie. Chemistrynya kurang cocok. Malah Raven si ibu walikota lebih dapet chemistrynya jika dipasangkan sama Anthony. Ini sih yang paling mengganjal.

Secara umum sebenarnya aktingnya banyak yang kurang. Ya campur2 lah, ada yang bagus ada yang enggak. Cuma si Anthony Mackie yang bagus. Setiap adegan yang dia mainkan enggak pernah gagal. Lucunya dapet, seriusnya juga dapet. Dia beneran tulang punggung serial ini (bersama Subaru-nya).

Bahkan salah satu tokoh besarnya, Sweet Tooth si badut, juga terasa kurang. Karena cuma diperankan oleh pemain gulat yang pakai topeng. Tapi karakternya tetap bikin seru.

Kekurangan yang lain, soal emosi. Ada hubungannya sama akting, tapi mungkin juga karena penggarapan. Adegan-adegan yang emosional kurang dapet emosinya. Saat sedih, atau marah, terasa datar aja. Cuma maksudnya tersampaikan.

Tapi kekurangan itu bisa dimaklumi. Karena kemasan filmnya yang komedi dan tidak begitu serius.

Satu hal yang di luar ekspektasi adalah endingnya twist. Bonus yang tidak terduga. Selain itu juga dikasih premis untuk season 2, yang mana terlihat sangat menjanjikan. Beberapa karakter baru dimunculkan. Yang main gamenya mungkin pada paham. Sayangnya saya dulu mainnya 'Rogue Trip' & 'Vigilante 8: 2nd Offense', tidak main 'Twisted Metal', jadi tidak kenal sama para karakternya.

Kesimpulan. Serial yang menghibur dan oke ditonton. Dengan catatan Anda suka mobil, suka komedi, dan bisa memaklumi hal-hal teknis seperti akting pas-pasan, emosi yang datar, dan kekurangan lain yang ada pada sebuah show ringan.

Selebihnya, sangat menantikan season 2 dan semoga akan ada peningkatan dari kekurangan sebelumnya.



Thursday, August 24, 2023

Cobweb (2023) - review

Lionsgate


Genre: horor, thriller

Dir: Samuel Bodin

Cast: Antony Starr, Lizzy Caplan, Cleopatra Coleman, Woody Norman, Aleksandra Dragova

Prod: Lionsgate


PETER sering mendengar ketukan di dinding kamarnya setiap malam. Tapi orangtuanya tidak percaya dan bilang itu hanya imajinasinya saja. Maka peter mulai mencari sendiri jawabnya.

Lumayan.

Nonton karena katanya twistnya bagus. Ternyata ya biasa aja sih. Bahkan mungkin bukan twist sebenarnya. Bisa ketebak jika ada niat buat nebak.

Tapi ceritanya lumayan. Ada tegangnya. Misterinya juga berhasil bikin ngajakin penasaran.

Cuma konfliknya masih menggunakan kelogisan dunia fiksi. Alias engga begitu logis jika di dunia nyata. Masalah yang ada muncul gara-gara main rahasia-rahasiaan dan gak ngasih tahu yang sebenarnya. Sengaja bikin penasaran. Alias mereka orang-orang yang sengaja cari masalah. Jadi gak nyesel saat akhirnya hal buruk terjadi. Sukurin deh, ngapain aneh-aneh sejak awal.

Tapi sebagi sebuah film, lumayan menghibur sih. Tontonlah jika sedang gabut. Ringan & menghibur. Tidak ada ruginya buat ngisi waktu.



Wednesday, August 16, 2023

Soulmate (2023) - review

New Entertainment World


Ini bagus banget.

Awalnya males mau nonton. Antara ngira cuma film persahabatan murahan & dangkal macam film remaja, atau ini film lgtv karena covernya dua orang cewek yang terlihat mesra. Ternyata film pure persahabatan dan digarap dengan berkelas.

Ceritanya tentang persahabatan Haeun & Miso yang bertemu sejak SD. Tapi plotnya tidak sesederhana itu. Premisnya, setelah dewasa si Haeun tidak diketahui keberadaannya. Seseorang bertanya kepada Miso, yang merupakan sahabatnya, tahukah dia keberadaan Haeun sekarang? Maka mulailah kita diajak kembali ke masa lalu melihat perjalanan Haeun & Miso dari awal, sambil sesekali kembali ke masa depan agar kita bisa merangkai puzzle dan menebak-nebak, kenapa mereka bisa berpisah? Dan di mana Haeun sekarang?

Secara cerita seru. Karena ngajak mikir dan menebak-nebak arahnya. Dialog-dialognya juga bagus. Dengan kutipan-kutipan yang cocok sama suasana filmnya dan terasa 'nyesss' di dada. Kemistri dua karakternya bagus banget. Penggambaran kedekatannya tidak lebay dan tidak terlihat fiktif.

Secara umum yang paling bagus sih penggambaran persahabatannya. Bikin sadar, sudah lama tidak melihat film persahabatan macam ini. Bikin ingat sama masa muda ketika suka-suka bareng temen, atau lagi marahan sama temen. Terharu karena tokoh orangtua, hewan, atau anak kecil di dalam film, itu sudah biasa. Tapi setelah sekian lama baru kali ini bisa terharu lagi oleh kisah persahabatan.

Akting dua karakter utamanya sangat bagus. Tidak ada yang lebih menonjol. Masing-masing punya porsinya sendiri. Tapi secara pribadi Kim Dami yang terbaik aktingnya. BTW dia mirip sama Bae Doona. Kayaknya harus ada film dia meranin karakter muda dan Bae Doona karakter dewasanya. Pasti jos.

Bahkan ngomongin artisnya aja terasa janggal. Karena mereka terasa menyatu banget sama karakternya.

Film persahabatan yang di luar dugaan bagus banget pokoknya. Hangat, kelam, menyentuh, sedih. Bikin tenggelam sampai dada sesek. Endingnya juga powerful banget. Gila deh, gak kepikiran bisa bikin ending seperti itu. Salah satu ending yang bakal lama meninggalkan kesan.

Salah satu film terbaik di 2023.




Sunday, August 13, 2023

Succession (2018-2023) - review

HBO


Keren banget.

Bercerita tentang keluarga konglomerat dalam menjalankan bisnisnya. Plot awalnya tentang si bapak yang udah tua tapi belum menentukan siapa anak yang akan mewarisi kursinya, jadi 3 anaknya pada rebutan untuk mendapatkan hati si bapak agar menjadi pewarisnya. Tapi kisahnya tidak sesederhana itu. Selain konflik dari ketiga anaknya, perusahaan juga sedang menghadapi berbagai konflik mulai dari kasus hukum hingga perang akuisisi dengan perusahaan lain.

Yang bikin menarik adalah para karakternya abu-abu. Tidak ada yang mutlak 'berhati baik'. Sebaliknya, semuanya orang brengsek. Mau dukung siapa juga bingung. Semua karakter saling tusuk dari belakang demi kepentingan sendiri. Sementara kroco-kroconya, berusaha menjilat tuannya demi dapat remah-remahnya. Menclok dari tuan satu ke tuan satunya.

Nonton bikin gregetan dan tegang. Gregetan saat lihat perilaku licik orang-orangnya. Tegang saat adegan negosiasi dan tawar menawar harga. Apakah kita nawar kemahalan, yang bikin mereka terlalu senang? Atau terlalu murah, yang bikin mereka langsung ilfil dan mundur?

Keren sih, konfliknya dunia ekonomi kelas atas tapi masih relate dan bisa dipahami sama penonton umum.

Cerita orang kaya di film kebanyakan, biasanya ditonjolkan dengan menggunakan barang-barang mewah, dan selalu hidup enak. Di Succession, orang kaya digambarkan selalu sibuk dan bekerja tanpa henti. Hidupnya sulit dan banyak beban pikiran. Setiap hari selalu dihadapkan pada urusan menentukan pilihan, jadi pala puyeng terus. Itu sih yang bikin para karakter di serial ini terlihat believeable kesultanannya. Mereka enggak cuma foya-foya, tapi berjuang mempertahankan gengsi dan kekayaannya. Cara bicara, gaya hidup, dan pola pikirnya juga berbeda. Bisa mendatangkan kesan mereka orang berbahaya dan semoga kita tidak pernah bertemu dengan orang macam mereka.

Aktingnya keren-keren semua. Sulit kalau disuruh milih yang terbaik. Soalnya semua terasa dapet porsi yang sama. Dan seperti sedang memerankan diri sendiri.

Ini serial yang ngalahin Better Call Saul di Emmy, dan tahun ini akan bersaing lagi. Memang layak menang. Emang keren dan kualitas banget.

Ada Succession, Better Call Saul, dan Yellowjackets, 3 show favorit yang masuk nominasi tahun ini. Berharap BCS bisa dapet tahun ini. Salah satu juga gapapa, antara best drama, best actor, atau best actress. Tapi kalau Succession lagi, enggak bisa protes, memang layak sih.

Serial yang menunjukkan besarnya kekuatan uang dan cara berurusan dengan uang. Semoga bisa ketularan tajir setelah dapat ilmu dari keluarga Roy.




Sunday, August 6, 2023

Guardians of the Galaxy Vol. 3 (2023)

Walt Disney


 Bagus. Tentang persahabatan macam anime. Peter-nya mirip banget sama Lufy, modal nekat demi menolong temannya. Musik-musiknya bagus. Openingnya keren. Cocok banget lagunya. Langsung dapet suasana sendunya.

Lucu-lucunya dapet. Will Poulter sukses nambah suasana. Cuma pasang muka datar udah lucu. Karakternya juga langsung bikin suka.

Sedihnya ada. Sayanganya udah ketebak arah ceritanya, jadi enggak yang sedih banget. Tapi tetep oke lah.

Ceritanya sederhana, namun ikatan kekeluargaan antar karakternya terasa kentel jadi berhasil meninggalkan kesan saat udah tamat.



Thursday, July 27, 2023

Dream (2023)

Oktober Cinema


 Melebihi ekspektasi. Dari trailer terlihat biasa aja & sedikit sepi. Tertarik nonton karena IU & PSJ. Serta sang sutradara yang dulu bikin Extreme Job (2019). Ternyata bagus. Lucu, sedih, dan greget.

Berdasarkan kisah timnas Korea mengikuti Piala Dunia Tunawisma 2010 di Hungaria yang dikemas secara komedi. Menceritakan Yoon Hongdae, seorang pemain bola yang sedang kena kasus dan karirnya seret, yang ditunjuk menjadi pelatih timnas Korea untuk memulihkan nama baiknya. Demi keperluan rating, dengan saran dari Produser Lee Somin, mereka bukan mencari pemain yang berbakat melainkan yang memiliki latar belakang mengharukan.

Ceritanya sangat sederhana, tapi emosionalnya dapet.

Lucunya dapet. Sedihnya juga dapet saat menceritakan masa lalu para pemain bolanya. Dan pertandingannya secara mengejutkan juga bisa disajikan dengan greget.

Film ringan yang full menghibur.




Friday, July 21, 2023

Sebesar apa ledakannya? - Review 'Oppenheimer (2023)'

Universal Pictures


Bagi yang mau nonton, perlu diingat ini film drama-biografi-politik, bukan aksi. Pasti banyak yang tertarik karena nama Nolan dan kabar 'bom sungguhan' yang digunakan untuk film ini, berharap akan melihat ledakan dahsyat yang mengguncang dunia. Kenyataannya, ini adalah film drama yang selama 3 jam isinya cuma ngobrol, tentang fisika, tentang perang, tentang politik, dan tentang persidangan.

Ya itu, posternya itu, itu click bait. Seolah-olah film perang dengan ledakan besar, padahal emmm... enggak terlalu begitu. Jika posternya jujur yang ditampilkan adalah orang-orang duduk di dalam ruang persidangan.

Apakah bomnya ada?

Tentu saja ada. Tapi bukan itu pertunjukan utamanya.

Visualnya bagus. Klip2 ledakan bomnya ngeri. Sound mantep, banyak suara gruduk2, musiknya bikin adrenalin naik. Aktingnya keren-keren. Cillian Murphy, Matt Damon, Robert Downey Jr., Casey Affleck, keren semua, besok bakal ada yang masuk nominasi best actor. Lihat aja.

Kurangnya satu: ceritanya kurang asik diikuti. Kebanyakan drama persidangan nan ruwet.

Di Interstellar ada adegan ke luar angkasa. Dunkirk ada adegan tembak2kan pesawat dan kapal. Inception, banyak adegan aksi yang memanjakan mata. Oppenheimer tidak ada hal semacam itu. Murni drama. Ya ada adegan bom itu. Tapi cuma itu tok.

Ketika cerita membahas soal bom atom, itu menarik. Asik nyimaknya meskipun gak mudeng pada ngomongin apa. Saat cerita ke kisah cinta Oppenheimer, agak malesin. Dan ketika cerita membahas persidangan, puncak yang paling malesin. Debat ngalor-ngidul pakai istilah-istilah sulit & gak tahu pada ngomongin apa.

Kisah persidangan di film lain ada kesan disederhanakan agar penonton mudah paham. Di Oppenheimer, Nolan malah membuatnya makin sulit dipahami dengan memakai plot maju mundur tumpang tindih. Adegan persidangan cuma dimunculin sepotong demi sepotong, sampai akhirnya film selesai dan baru kelihatan kasusnya secara utuh.

Andaikan durasinya lebih pendek, tidak kebanyakan drama persidangan, dan lebih banyak cerita soal bomnya, pasti bisa lebih menghibur. (Kita semua pingin nonton karena bomnya kan?)

Jika anda memang sudah kenal dengan Oppenheimer, ini akan menjadi film bagus, karena menjadi visualisasi dari kisah hidupnya yang selama ini cuma ada dalam sejarah. Jika anda hanya penonton biasa yang ingin mencari hiburan, apakah sudah siap nonton drama persidangan selama 3 jam?