![]() |
| Mappa |
Oke sih. Tetapi lebih bagus manganya.
![]() |
| Mappa |
Secara teknis animasi, film ini bagus. Sayangnya tidak bisa mengadaptasi ciri khas Fujimoto dalam storytelling di manga.
![]() |
| Mappa |
Manga Chainsaw Man punya keistimewaan sendiri. Dan keistimewaan itu hilang di film ini.
Di manga, dramanya sangat mengalir dan sinematik. Tidak bertele-tele. Di film dramanya jadi dragging. Adegan fillernya membuat film jadi sangat shonen dan bertele-tele. Begitu juga gelutnya.
![]() |
| Mappa |
Pertarungan di manga terasa pendek tapi tegang. Kita dibuat penasaran dengan apa yang akan terjadi berikutnya. Di film jadi dipanjang-panjangin + dikasih musik jedug-jedug. Suasana jadi beda. Hilang bagian tegangnya.
![]() |
| Mappa |
Sebelum ini sempat nonton Jujutsu Kaisen: Shibuya x Culling Game, yang gelutnya juga dikasih musik jedug-jedug dan membuat kurang suka. Namun ternyata JJK masih lebih bagus, karena tidak mengurangi ketegangan. JJK juga membuat adegan filler, tetapi terasa sangat pas dan menambah ketegangan.
![]() |
| Mappa |
Ya, karena materi Jujutsu Kaisen memang fokus pada pertarungan. Ada narasi teknik pertarungan dan sistem kekuatan dan pikiran para karakternya, jadi ada yang disimak selama pertarungan. Itu berbeda dengan Chainsaw Man yang tidak memiliki sistem kekuatan yang jelas, sehingga bagian filler di film hanya terasa sebagai ledakan sana-sini yang hambar.
![]() |
| Mappa |
Karakter Reze juga tidak sesuai imajinasi (kalau ini subyektif). Reze dalam pikiran saya agak tomboy dan nakal dengan suara dewasa. Di anime jadi pakai suara imut2 dan centil, yang jatuhnya malah annoying.
![]() |
| Mappa |
Bahkan karakter Denji juga terasa berbeda. Entah ya, dia terasa seperti karakter shonen mainstream yang lucunya dibuat-buat. Padahal di manga dia sangat unik dan lucunya natural. Tapi lagi-lagi ini subyektif tergantung imajinasi masing-masing.
![]() |
| Mappa |
Menurut saya Jujutsu Kaisen juga tidak sebaik manganya. Tetapi masih berbagi suasana yang sama. Dan adegan filler di Jujutsu Kaisen berhasil memperbaiki tempo cerita yang sangat cepat di manga menjadi pas di anime. Seperti ketika Sukuna atau Gojo membuka domain, yang mana di manga hanya gambar dan penjelasan, tapi di anime jadi benar-benar bagus. Untuk Chainsaw Man, saya tidak menemukan keunggulan seperti itu. Malah cenderung bosan karena terasa lama menunggu sesuatu terjadi.
![]() |
| Mappa |
Kesimpulan. Sebagai film hiburan, apalagi buat yang belum baca manganya, ini film yang oke. Tetapi sebagai adaptasi, ini bukan adaptasi yang bisa menerjemahkan manganya dengan baik. Sebagai perbandingan, Look Back adalah contoh adaptasi yang sangat bagus dan bisa menangkap seni bercerita dan gambar khas Tatsuki Fujimoto.
Sayang Chainsaw Man tidak bisa diadaptasi seakurat itu.
❖




format(webp).jpg)





Comments
Post a Comment