![]() |
| StarVision Plus |
nonton ini berhari-hari tidak kelar. cuma kuat dicicil buat teman makan. mencoba menghabiskan setengah jam terakhir pun rasanya tersiksa, masih harus sambil buka hp biar gak terlalu ngantuk. cuma penasaran apakah endingnya ada sesuatu. ternyata biasa juga.
konfliknya terlalu fiktif, jadi sulit buat tegang. karena para karakternya bertindak dengan bodoh. akting karakternya terlalu dibuat-buat. dialognya terlalu banyak menjelaskan, menganggap penonton bodoh, kesalahan yang sering terjadi di film indonesia. semua itu bisa dimaklumi jika ini film komedi. tapi gak ada yang bisa bikin ketawa juga.
![]() |
| StarVision Plus |
contoh ketika si villain muncul. penggambarannya dibuat seolah dia mengintimidasi, dengan bicara dipanjang-panjangkan. tetapi malah jadi fail. ya masak orang jahat datang pakai perkenalan, "kamu tahu siapa saya? saya adalah suruhan si anu. dia bos besar yang berbahaya." wahahaha
coba lihat mike atau si kembar di breaking bad universe. apa mereka datang pakai perkenalan? tidak. mereka langsung bertindak bahkan tanpa bicara. mereka tidak bilang suruhan siapa, atau mereka siapa. langsung datang dan bilang butuhnya apa. kalau dipersulit langsung bunuh.
premis film ini mirip 'no country for old men'. tapi lihat si pemburu (anton) di no country tersebut. dia tidak perkenalan. dia tidak bilang ke penonton dia siapa. si mc juga tidak tahu dia siapa. cukup ditunjukkan adegan dia bunuh orang. dan ketika dia mengejar si mc, langsung jadi horor. penonton sudah tahu dia seram! karena ada adegan dia membunuh orang! itulah the power 'show not tell'.
lalu ada lagi dialog, "wah nyawa bisa melayang kalau urusan sama bandar narkoba". itu dialog yang tidak perlu! lagi-lagi, cukup tunjukkan saja. lagian penonton juga sudah tahu hal sestandar itu. jangan menganggap penonton bodoh.
![]() |
| StarVision Plus |
konfliknya juga terlalu mengada-ada. lebih masuk akal jika mereka pindah terus tahu-tahu didatangi si pemburu. lagian mereka cuma ngontrak. setelah nemu uang sebanyak itu dan memotong2 orang ya lebih masuk akal jika pergi tanpa jejak. ganti mobil, ganti model rambut, dll. kecuali jika dia tinggal di rumah peninggalan ortunya, jadi ada motivasi buat menetap.
dan ngapain balik lagi ngecek lokasi mayat & mobil.
karakter lain dinerf. si penjahat, para polisi. semua dibuat jadi bodoh didepan si mc. gampang banget ditipu.
untungnya film cuma 90 menit.
kesimpulan. konflik & cerita mungkin bisa dimaklumi. namanya juga film. tapi andai dialognya lebih padat dan banyakin penceritaan visual, ini bisa jadi film yang bagus.
masih heran kenapa banyak film indonesia yang penceritaannya masih menganggap penonton bodoh dan menjelaskan semuanya. dan kenapa produser atau sutradara profesional bisa meloloskan film seperti itu.
**



Comments
Post a Comment